Hukum Merapikan Jenggot

Assalamu’alaikum…..
(1) ana mau tanya, bagaimana hukumnya merapikan jenggot?Apakah sama hukumnya dengan memotong jenggot?
Yang dimaksud merapikan adalah tentunya tidak menghilangkan seluruhnya atau dengan kata lain hanya memotong sebagian saja dari jenggot?Karena di setiap ana wawancara kerja selalu di permasalahkan mengenai jenggot yang ana punyai….
(2) Enam bulan yang lalu, ana telah menyelesaikan studi S1, selama itu pula ana berharap dapat kerja dan terus-menerus mencari pekerjaan di antaranya melalui Internet dan juga koran2.Akan tetapi,ana selalu mengalami kegagalan dlm setiap mengikuti Tes kerja sehingga kadang-kadang ana merasa berputus asa untuk mencarinya lagi.Yang ana tanyakan : Bagaimana untuk menyikapi hal ini semua?terus, apa yang semestinya ana harus lakukan?
mohon bimbingan dan nasehatnya…..jazzakallahukhoiran katsiran…
Wassalamu’alaikum…..

   

Untuk pertanyaan yang pertama tentang masalah jenggot,Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memerintahkan umatnya untuk memelihara dan membiarkannya,dan tidak mengambil sedikitpun dari jenggot tersebut,walaupun dengan maksud merapikannya.Diantara hadits yang menjelaskan hal tersebut adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

(( انْهَكُوْا الشَّوَارِبَ وَ أَعْفُوْا اللِّحَى ))

” Cukurlah kumis-kumis kalian,dan biarkanlah jenggot-jenggot kalian ”
(HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar)

Al-munawi menjelaskan makna ” wa a’fuu ” dimana beliau berkata : ” yaitu tinggalkanlah ia dan jangan engkau mengambil darinya sedikitpun .”
(Faidhul qadir : 3/83).

Adapun bila ada yang mempermasalahkan jenggot anda, maka itu bukan alasan untuk meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Didalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda :

(( مَنْ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ ))

” Barangsiapa yang mencari ridha Allah yang menyebabkan manusia marah (kepadanya), maka Allah mencukupkannya dari manusia, dan siapa yang mencari ridha manusia yang menyebabkan kemurkaan Allah, maka Allah menyerahkannya kepada manusia (dan meninggalkan hamba tersebut)”.
(HR.Tirmidzi dari Aisyah, dan dishahihkan Al-Albani dalam shahih al-jami’ : 6097)

Adapun berkenaan tentang pertanyaan kedua, satu hal yang harus jadi keyakinan kita bahwa rezki setiap manusia telah ditetapkan oleh Allah ‘Azza wajalla, dan setiap manusia tidak akan meninggal melainkan jika Allah telah menyempurnakan rezki yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuknya. Sehingga hendaklah anda bersabar menghadapi semua itu, dan terus berusaha mencari sebab-sebab yang dihalalkan oleh Allah Ta’ala dalam mendapatkan rezki, dan menghindari cara-cara yang diharamkan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

(( الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ : لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ : قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ ))

” Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan setiap mereka memiliki kebaikan. Bersemangatlah untuk mencari sesuatu yang bermanfaat bagimu, dan meminta tolonglah kepada Allah, dan jangan merasa lemah. Jika sesuatu menimpamu maka jangan engkau mengatakan : ” Seandainya aku melakukan ini dan itu maka tentu akan terjadi ini dan itu “, namun ucapkanlah : ” Allah telah mentaqdirkan hal itu, dan Allah melakukan apa saja yang dikehendakinya. Karena “seandainya” tersebut akan membuka (pintu) beramalnya syetan.”
(HR.Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Dan sabdanya:

(( فَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، وَلا يَحْمِلَنَّكُمِ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوهُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ لا يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلا بِطَاعَتِهِ ))

” Dan baiklah dalam mencari (rezki), dan jangan kelambatan rezki-mu membawamu untuk mencarinya dengan cara maksiat kepada Allah, karena sesungguhnya tidak didapatkan apa yang ada disisi Allah Ta’ala kecuali dengan cara keta’atan kepadanya.”
(HR.At-Thabrani dari Abu Umamah Al-Bahili, dan dishahihkan Al-Albani dalam shahih al-jami : 2085).

Wallahu a’lam.

— Abu Karimah Askari —

http://darussalaf.org/index.php?module=MyBoard&func=detail&id=109

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: